Tugas Cerita 3
Pada suatu hari, duduklah Tokei di taman rumahnya yang amat besar. Ia menatap pagar rumahnya yang tinggi. "Kapankah aku bisa keluar dan melihat pantai. Terkahir saya mendengar suara ombak adalah 10 tahun yang lalu." Dia berpikir. Datanglah temannya Ali, teman dekatnya yang selalu datang di depan pagarnya untuk memberikan Tokei jajanan. "Maaf, hari ini terlambat." Ali bilang dengan senyum di mukanya. Tokei pun menghela nafas lega. Tokei segera membuka pagarnya untuk Ali masuk. Mereka berdua bertemanan sejak Tokei masih kecil. Orangtuanya Ali dekat dengan orangtuanya Tokei. Saat Tokei membuka pagarnya, ia mempunyai muka yang sedih, karena tidak dapat melewati batas pagar tersebut, oleh orangtuanya, walaupun menyayangi Tokei, tidak membolehkan ia keluar rumah tanpa izin karena ingin Tokei selamat. "Siap gak liburan ke gunung untuk promosi pak Budi?" Bertanyalah Ali. Tokei pun bersenyum, "Pasti, karena udah lama saya keluar rumah untuk liburan." Tokei bilang dengan kata formal. Mereka berdua bersiap-siap pergi liburan di atas gunung. Tokei ingin bermain di salju, ia tak pernah merasakan salju di tangannya. "Ayo, masuk kalian berdua. Pak Budi udah di jalan loh" ucaplah Kevin, ayahnya Tokei. Mulailah mereka berangkat, tapi tanpa mereka duga, mereka bukan hanya merasakan salju dengan pertama kali, tetapi juga merasakan darah. Tokei duduklah di mobil, siap siap untuk berlibur di villa gunung Puncak Jaya. Ia senang dapat pergi bersama kedua orangtuanya, walaupun iya di isolasi oleh orangtuanya, Tokei tetap menghargai orangtuanya yang mencoba untuk menghibur dia. Ia duduk di belakang mobil, di depannya ada Kevin dan Shira. Tokei mendengar percakapan mereka. "Senang ya, Pak Budi dapat promosi untuk menjadi karyawan kamu." ucapkan Shira. Kevin bersenyum, senang untuk bekerja dengan teman dekatnya. Tokei tak benci dengan Pak Budi, karena Pak Budi sering datang ke rumahnya untuk makan bersama.
Comments
Post a Comment