Komplikasi Fiksi

 Komplikasi: 

Tokei duduklah di mobil, siap siap untuk berlibur di villa gunung Puncak Jaya. Ia senang dapat pergi bersama kedua orangtuanya, walaupun iya di isolasi oleh orangtuanya, Tokei tetap menghargai orangtuanya yang mencoba untuk menghibur dia. Ia duduk di belakang mobil, di depannya ada Kevin dan Shira. Tokei mendengar percakapan mereka. "Senang ya, Pak Budi dapat promosi untuk menjadi karyawan kamu." ucapkan Shira. Kevin bersenyum, senang untuk bekerja dengan teman dekatnya. Tokei tak benci dengan Pak Budi, karena Pak Budi sering datang ke rumahnya untuk makan bersama. 

Sampailah mereka ke villa. Tokei melihat bahwa villanya tertutup oleh salju, dengan dinding dan atap terbuat dari kayu. Di depan gerbang, ia bertemu dengan Ali. "Hai Tokei, dingin ya disini? Tapi didalam enak banget, ada perapian." Tokei masuk melewati pintu depan, ia melihat keliling, "Lumayan besar untuk villa diatas gunung." Ia berpikir. Tokei masuk ke kamar untuk dia dan orangtunya. "Halo Tokei," ucap Pak Budi dari belakang, Tokei awalnya kaget, tetapi menyadari bahwa itu suaranya Pak Budi. "Sudah berapa bulan tak bertemu Tokei, bagaimana dengan Kevin dan Shira?" Ucap Pak Budi.  "Alhamdullilah sehat." ucap Tokei. Ada beberapa orang lain yang datang, ada beberapa yang Tokei nggak kenal. Ketika pukul 7 malam, Kevin berdiri dengan mic. "Selamat malam semua, terimakasih sudah datang ke selebrasi promosi Pak Budi. Ia akan menggantikan saya untuk saya pensiun." Semuanya tepuk tangan mendengar kata kata Kevin. Tokei pun duduk di belakang dengan Ali. Pak Budi berdiri mengsiapkan kertas berisi catatan. "Saya bersyukur atas kepercayaan yang diberikan Pak Kevin untuk kesempatan ini. Terima kasih dan saya berharap sebagai bos baru, kami semua dapat bekerja bersama dengan baik." Semua penonton dan teman kerja bertepuk tangan. Tokei dan Ali bersenyum melihatnya. Ada banyak yang mengambil foto-foto. Pukul 8 malam, semuanya sedang makan bersama di meja besar, Tokei melihat keliling, ada beberapa orang yang sedang tidak makan, salah satunya adalah perempuan dekat perapian yang melihat kameranya. Pak Budi pun sedang melihat jam tangannya berkali kali. Tokei bingung mengapa perlu melihat jam tanganya karena ada jam dinding yang besar diatas perapian. Tetapi dengan tertawa orang-orang yang ada di selebrasi tersebut, akan cepet hilang ketika perapiannya mati. Gelaplah ruangannya, banyak orang yang bingung. "Dug." Ada suara aneh yang muncul. Ketika perapian kembali nyala... "AHHHHHH," teriaklah Shira, melihat tubuhnya Kevin tak bernyawa di lantai. Semuanya kaget melihatnya, langsung beberapa orang yang ingin keluar villa tersebut, dan ada beberapa yang ingin menelpon polisi. Tapi sinyalnya jelek karena badai salju, dan mobil-mobilnya ketutupan dengan es. Banyak orang pun terjebak di Villa ini, dan dari 12 orang yang berada di pesta ini, siapapun mungkin bertanggung jawab atas pembunuhan Kevin. 


Comments

Popular posts from this blog

Dilahirkan di Balikpapan, Sekolah di Jakarta

Non-Fiksi

Pidato